generalNov 27, 2025

Ketika Semuanya Bermula: Warisan RRQ Dota 2

Babak 1: Awal Mula Sang Raja: Dari DotA ke Dota 2

Sebelum “Rex Regum Qeon” jadi nama besar di jagat esports Indonesia, ia lahir dari kesederhanaan, yakni mimpi dan semangat komunitas.

Tahun 2013, masa itu Dota 2 baru saja mulai menggantikan game yang telah membesarkannya — DotA (Defense of the Ancients), sebuah mod di Warcraft III: The Frozen Throne. Dunia esports sedang bergeser. Dari warnet ke panggung besar. Dari hobi ke profesi. Dari kumpulan pemain berbakat ke organisasi dengan mimpi besar.

Di titik inilah, RRQ lahir.

Dari Fnatic XCN ke RRQ: Awal Sebuah Legenda

Salah satu sosok paling penting dalam babak pertama ini adalah Farand “Koala” Kowara.

Nama yang sekarang jadi legenda di dunia esports Indonesia — dan masih aktif sampai hari ini (Oktober 2025) sebagai pelatih di Army Geniuses.

Koala memulai perjalanannya di era DotA, ketika esports masih belum dianggap “serius”. Bayangkan, di tahun 2008, ketika kebanyakan anak muda masih main di warnet demi seru-seruan, Koala sudah membela Fnatic XCN, tim asal Indonesia yang berafiliasi dengan organisasi internasional Fnatic. Saat itu, ia baru 19 tahun.

Dan lima tahun kemudian, di penghujung 2013, Koala bersama beberapa nama-nama besar lain dikumpulkan untuk jadi sebuah tim, yang akan membawa semangat kompetisi Indonesia ke level Asia.

Tim itu dinamai, Rex Regum Qeon, yang berarti Raja dari Para Raja.

Asian Cyber Games 2013: Titik Nol RRQ

Kompetisi Asian Cyber Games 2013, atau sering disebut The Asia, menjadi ajang pertama ketika nama RRQ tercatat dalam sejarah.

Roster RRQ waktu itu berisi beberapa nama yang kini dikenal sebagai pionir Dota 2 Indonesia: Koala, Azam “Nafari” Aljabar, Ritter, Rene “Minerva” Michael Halim, Jeffry “Gehenna” Martin Suhendra, Albert 'DonXwaN' Ludong, dan Muhammad 'bubu' Damar.

Mereka tampil dengan penuh semangat di panggung internasional, meskipun hasilnya belum spektakuler. Tapi di balik layar, satu hal mulai tumbuh. Sebuah identitas. Sebuah keluarga. Sebuah legacy.

Lebih Dari Sekadar Tim

RRQ bukan sekadar proyek kompetitif. Bagi mereka yang ada di masa awal, RRQ adalah rumah. Rumah bagi para pemain yang ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa berdiri sejajar dengan tim-tim besar Asia. Dan di sinilah semangat RRQ terbentuk — semangat yang akan terus mereka bawa ke berbagai divisi esports hingga kini.

Kegagalan Pertama, Pelajaran Terbesar

Tahun 2014 jadi tahun ujian. RRQ mencoba masuk ke kualifikasi The International 4 (TI4) SEA Qualifier, event yang jadi impian semua pemain Dota 2 di dunia.

Tapi hasilnya pahit. Mereka gagal menembus babak utama. Dan setelah itu, RRQ memutuskan untuk “mereset” diri: melepas roster lamanya, menata ulang struktur tim, dan memulai lagi dari awal.

Namun, bagi RRQ, kegagalan itu bukan akhir. Momentum Itu adalah awal dari perjalanan panjang; perjalanan yang akan membawa mereka melewati banyak generasi, kemenangan, dan air mata.

Roster Dota 2 RRQ di 2013:

- Ritter “Ritter” Rusli

- Rene “Minerva” Michael Halim

- Albert “DonXwaN”Dick Ludong

- Farand “KoaLa” Kowara

- Jeffry “Gehenna” Martin Suhendra

- Azam “Nafari” Aljabar Nafari

- Muhammad “bubu” Damar

Roster Dota 2 RRQ di 2014:

- Albert “DonXwaN”Dick Ludong

- Farand “KoaLa” Kowara

- Jeffry “Gehenna” Martin Suhendra

- Azam “Nafari” Aljabar Nafari

- Muhammad “bubu” Damar

- Yusuf “Yabyoo” Kurniawan

- Henry “Xing” Tan

- Ega “Nivis” Tanzil

- Egi “Indigo” Tanzil

- Agustian “PhoeniX” Hwang

 

Babak 2: Tahun-Tahun Penuh Harapan (2015–2016)

Setelah perpisahan menyakitkan di 2014, RRQ sempat hening. Dunia Dota 2 terus berputar, tapi sang Raja belum mati. Ia hanya sedang menyiapkan kebangkitan.

Di awal 2015, RRQ kembali, bukan dengan janji besar, tapi dengan semangat baru. Tak ada lagi nama-nama lama seperti Gehenna dan Minerva, tapi semangat yang mereka tinggalkan masih membara.

Kali ini, RRQ hadir dengan formasi baru: Amz, Xepher, bubu, Nafari, SCL, dan Panda. Beberapa di antaranya adalah talenta muda Indonesia yang haus pembuktian.

2015: Tahun Reinkarnasi Sang Raja

Banyak yang tidak menyangka kalau comeback RRQ di tahun ini akan jadi titik balik besar.
Dalam ajang South East Asia Dota 2 Championship, mereka berhasil meraih juara pertama, membawa pulang hadiah USD 5.000. Jumlah tersebut mungkin kedengarannya kecil untuk sekarang, namun kemenangan tersebut menjadi sebuah pengukuhan untuk terus berjuang.

Tak berhenti di situ, mereka juga menembus 2 besar di Asian Cyber Games SEA Invitational.

Di tengah rotasi pemain yang cepat dan persaingan brutal, RRQ tetap berdiri. Setiap kemenangan, sekecil apa pun, jadi pengingat bahwa Indonesia bisa bersuara di pentas Asia.

Keluarga yang Terus Tumbuh

Dota 2 bukan hanya soal mikro dan makro. Ia juga tentang kepercayaan.
Dan kepercayaan itu lahir dari hubungan antar pemain.

Di masa ini banyak nama datang dan pergi: Amz, Xepher, Yabyoo, Xing, Nivis, hingga Indigo — semuanya memberi warna tersendiri dalam sejarah RRQ. Beberapa dari mereka kelak dikenal sebagai bintang besar di Dota 2. Tapi di tahun-tahun itu, mereka semua masih berdiri di bawah bendera yang sama: bendera RRQ.

2016: Dari Open Qualifier ke Panggung Asia

RRQ terus berjuang di level regional. Mereka menjuarai BTS SEA #4 Open Qualifier, lalu menempati posisi kedua di ProDota SEA Cup #3. Mungkin hasil ini tidak sampai ke DPC Points seperti sekarang, tapi bagi komunitas Dota Indonesia, RRQ adalah kebanggaan.

Mereka bukan tim yang penuh bintang internasional, tapi mereka punya sesuatu yang lebih berharga: kegigihan. Kegigihan itulah yang membuat mereka terus melangkah bahkan saat hadiah kecil dan spotlight jarang datang.

Clara “Mongstar” dan Masa Baru RRQ

Sekitar 2016, seorang sosok baru bergabung dalam perjalanan RRQ Dota 2: Clara Kartikasari Utoyo, yang sekarang dikenal sebagai Mongstar. Saat itu, ia baru saja pindah ke Jakarta setelah lulus, dan RRQ menjadi tempat pertama ia bekerja di ibu kota, yaitu sebagai manajer tim Dota 2 RRQ.

Mungkin saat itu tak banyak yang tahu, tapi Mongstar akan jadi salah satu wajah paling dikenal di scene Indonesia. Dari balik layar, ia menyaksikan naik-turunnya RRQ Dota 2, belajar tentang passion, strategi, dan arti keluarga dalam dunia yang keras ini.

Tahun-tahun ini membentuk RRQ sebagai organisasi yang lebih dewasa.
Mereka sudah bukan sekadar tim yang ingin menang — mereka adalah simbol dari semangat esports Indonesia yang tidak mau menyerah.

Xepher: Dari RRQ ke The International

Salah satu kisah paling inspiratif dari era ini datang dari Kenny “Xepher” Deo, yang sempat membela RRQ di 2015–2016.

Xepher terus berjuang dan akhirnya, di tahun 2021, berhasil tampil di The International 10 (TI10) bersama Whitemon.

Ia menjadi salah satu dari dua pemain Indonesia pertama yang berhasil menembus TI — pencapaian yang menandai betapa besar pengaruh RRQ terhadap lahirnya talenta-talenta terbaik negeri ini.

Roster Dota 2 RRQ di 2015:

- Farand “KoaLa” Kowara

- Vinzent “oddie” Indra (Player, terus beralih jadi Team Manager)

- Ario “Panda” Susilo

- Azam “Nafari” Aljabar Nafari

- Muhammad “bubu” Damar

- Ruby “SCL” Gunawan

- Yusuf “Yabyoo” Kurniawan

- Henry “Xing” Tan

- Angga “Amz” Julia

- Kenny “Xepher” Deo

- Ega “Nivis” Tanzil

- Egi “Indigo” Tanzil

- Agustian “PhoeniX” Hwang

Roster Dota 2 RRQ di 2016:

- Farand “KoaLa” Kowara

- Michael “KelThuzard” Samsir

- Rizki “Varizh” Varizh

- Ahmad “ADTR” Syazwan

- Kenny “Xepher” Deo

- Yusuf “Yabyoo” Kurniawan

- Clara “Mongstar” (Team Manager)

 

Babak 3: Masa Keemasan dan Perjuangan Tanpa Akhir (2017–2018)

Ketika nama “Rex Regum Qeon” kembali menggema di panggung besar Dota 2, bukan karena keberuntungan — tapi karena kerja keras yang tak kenal lelah.

2017: Tahun yang Sibuk dan Penuh Percikan

Masuk ke 2017, RRQ mulai menata diri lebih rapi. Divisi Dota 2 mereka sudah punya arah, dan roster mulai stabil. Koala masih menjadi sosok sentral, kali ini bukan hanya sebagai pemain, tapi juga sebagai pemimpin dan mentor bagi generasi baru.

Sepanjang 2016 sampai 2017, gabungan pemain muda dan kawakan mewarnai divisi dota 2 RRQ. Nama-nama besar dari sejarah Dota 2 Indonesia juga ada di era ini, seperti Varizh, KelThuzard, ilLogic, ataupun Azur4; semuanya memberikan warna tersendiri untuk RRQ.

Kombinasi ini membawa RRQ ke beberapa panggung besar — mereka finis 3 besar di Indonesia Games Championship (IGC 2017) dan 3 besar di WCA 2017 APAC Qualifier.

Bagi RRQ, ini bukan soal trofi semata. Ini adalah bukti bahwa setelah bertahun-tahun berjuang, mereka bisa kembali bersaing di level regional Asia.

Tahun ini juga jadi titik penting bagi Farand “Koala” Kowara.
Setelah lebih dari empat tahun membawa nama RRQ, Koala memutuskan untuk pensiun sebagai pemain aktif pada 22 Desember 2017. Tapi ia tak pernah benar-benar pergi — ia langsung berganti peran menjadi coach.

2018: Tahun Saat RRQ Menorehkan Sejarah

Bagi fans Dota 2 Indonesia, 2018 adalah tahun yang tak terlupakan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada turnamen resmi Dota Pro Circuit (DPC) di Indonesia — GESC: Indonesia Dota 2 Minor.

Dan siapa yang jadi wakil tuan rumah di panggung sebesar itu?
Rex Regum Qeon.

RRQ menembus kualifikasi nasional dan tampil di antara tim-tim besar dunia seperti Evil Geniuses, NaVi, dan Fnatic. Mereka memang “hanya” finis di posisi 7–8, tapi sorotan dan kebanggaan yang mereka bawa jauh melampaui hasil itu.

Untuk pertama kalinya, fans Indonesia bersorak di panggung DPC dan berteriak nama tim dari negeri sendiri: “RRQ! RRQ! RRQ!”

R7 – Dari Offlaner Dota ke Singgasana MLBB

Jika di tahun 2017 RRQ kedatangan Adi “Acil” Syofian Asyauri, yang kelak berevolusi jadi pelatih sukses di panggung MPL, maka tahun 2018 menandai munculnya bintang baru: Rivaldi “R7” Fatah.

Ia bergabung dengan divisi Dota 2 RRQ sebagai pemain muda yang penuh potensi — tenang, pekerja keras, dan punya rasa ingin tahu yang besar.

Tak banyak yang menduga, perjalanan R7 akan membawanya jauh melampaui dunia yang pertama kali memperkenalkannya. 

Meski banyak yang menyebut MOBA di ponsel lebih mudah dibandingkan di PC, kenyataannya tidak ada pemain Indonesia dari Dota 2 atau League of Legends yang mampu menembus sukses sebesar R7 saat beradaptasi ke Mobile Legends. Ia bukan sekadar “mantan pemain Dota yang pindah ke MLBB” — ia adalah bukti nyata bahwa semangat dan mentalitas seorang kompetitor sejati bisa melampaui platform mana pun.

Perjalanan R7 bukan tanpa rintangan. Ketika pertama kali pindah ke MLBB, ia bahkan hanya bisa memainkan dua hero dengan baik. Tapi, seperti filosofi RRQ yang selalu ia bawa, ia tak pernah berhenti belajar.

Sedikit demi sedikit, ia mengasah diri, hingga akhirnya diakui sebagai salah satu EXP laner terbaik Indonesia, bahkan beberapa tahun setelah pensiun dari panggung profesional.

R7 bukan hanya simbol transisi sukses antar game — ia adalah perwujudan dari kegigihan, disiplin, dan kerendahan hati, tiga hal yang menjadi esensi dari semangat RRQ itu sendiri.

Cahaya di Tengah Perubahan

Di balik prestasi dan sorotan, kehidupan Dota 2 di Indonesia tidak mudah.
Hadiah turnamen yang kecil, scene lokal yang tidak stabil, serta semakin banyak pemain yang beralih ke game mobile membuat banyak tim mulai goyah.

Tapi RRQ tidak pernah menyerah.
Setiap pertandingan, setiap qualifier, mereka main bukan untuk uang — tapi untuk nama, untuk kebanggaan, dan untuk cinta terhadap game yang sudah membesarkan mereka.

Roster Dota 2 RRQ di 2017:

- Farand “KoaLa” Kowara (Player, kemudian beralih jadi Coach)

- Bruce “ilLogic” Ervandi

- Muhamad “Azur4” Luthfi

- Michael “KelThuzard” Samsir

- Jun “Bok” Kanehara

- Nicholas “Eden” Thie

- Rizki “Varizh” Varizh

- Ahmad “ADTR” Syazwan

- Adi “Acil” Syofian Asyauri

- Yusuf “Yabyoo” Kurniawan

- Kenny “Xepher” Deo

- Clara “Mongstar” (Team Manager)

Roster Dota 2 RRQ di 2018:

- Farand “KoaLa” Kowara

- Rusman “Rusman” Hadi

- Rivaldi “R7” Fatah

- Augustus “xRag” John Casanada

- Yusuf “Yabyoo” Kurniawan

- Kenny “Xepher” Deo

- Adi “Acil” Syofian Asyauri

- Sivasubramaniam "Ara" Aarathanan (Coach)

 

Babak 4: Akhir Sebuah Era (2019)

Setiap perjalanan besar punya akhirnya sendiri. Tapi tidak semua akhir berarti berhenti.

Awal 2019: Masih Berjuang di Tengah Badai

Tahun 2019 sebenarnya dimulai dengan semangat yang sama — tapi juga beban yang lebih berat dari sebelumnya. Dunia Dota 2 di Asia Tenggara mulai berubah. Banyak pemain veteran pensiun, organisasi besar hengkang, dan sponsor mulai beralih ke game mobile yang sedang naik daun seperti Mobile Legends dan PUBG Mobile.

Di tengah situasi itu, RRQ masih mencoba bertahan. Roster mereka di awal 2019 diisi oleh Rusman, R7, Acil, Yabyoo, dan xRag — wajah-wajah yang sudah loyal, berjuang sejak 2017–2018. Mereka ikut tampil di berbagai kompetisi, termasuk ESL Indonesia Championship Season 1, saat RRQ finis di peringkat 5 dan membawa pulang hadiah USD 2.000.

Namun, di balik layar, semua orang tahu… tekanan itu nyata. Mencari pemain baru yang sepadan makin sulit. Jadwal scrim makin jarang. Turnamen lokal semakin sedikit. Dan pada akhirnya, satu-satunya yang tersisa hanyalah cinta terhadap game — tapi itu saja tidak cukup untuk menutupi biaya operasional yang besar.

Roster Dota 2 RRQ di 2019:

- Rusman “Rusman” Hadi

- Yusuf “Yabyoo” Kurniawan

- Rivaldi “R7” Fatah

- Augustus “xRag” John Casanada

- Adi “Acil” Syofian Asyauri

25 April 2019: Hari Ketika Sang Raja Pamit

Hari itu, RRQ mengumumkan secara resmi: Divisi Dota 2 ditutup.

Tidak ada drama, tidak ada perpisahan megah. Hanya satu postingan di media sosial, yang diikuti ucapan terima kasih dari para pemain dan manajer. Media seperti Hybrid dan Esports ID menulis berita tentang alasan di balik keputusan itu — kesulitan mencari roster yang kompetitif, shrinking talent pool, dan realitas keras dari industri Dota 2 di Indonesia.

“Kami mencoba, berkali-kali, tapi pada akhirnya sulit menemukan komposisi yang solid untuk bersaing di tingkat regional,” ujar Head of Team Manager RRQ saat itu, dengan nada berat tapi penuh keikhlasan.

Bagi sebagian fans, berita itu seperti kehilangan bagian dari sejarah.
Bagi mereka yang tahu perjuangan dari awal, RRQ Dota 2 bukan sekadar tim — ia adalah simbol. Simbol bahwa Indonesia pernah punya pasukan yang berdiri tegak di panggung internasional, membawa nama “Rex Regum Qeon” dengan penuh kebanggaan.

Namun Cerita Tak Berakhir di Sini: RRQ.Trust

Di tahun yang sama, sesuatu yang menarik terjadi. RRQ mengumumkan kerja sama dengan tim Thailand, Trust Gaming, untuk membentuk RRQ.Trust.

Dengan roster berisi pemain-pemain kuat Thailand seperti Boombell, Fearless, dan Q, RRQ.Trust langsung tampil menggila di scene Asia Tenggara. Mereka menjuarai ESL Thailand Championship Season 2, dan menempati peringkat 3 di ESL Clash of Nations Bangkok 2019 — dengan penonton mencapai hampir 18 ribu di puncak live stream.

Bagi banyak orang, RRQ.Trust seperti “reinkarnasi” semangat lama RRQ Dota 2. Bedanya, kali ini bukan di Jakarta, tapi di Bangkok. Sayangnya, perjalanan baru ini juga tak berjalan lama.

Roster RRQ Trust:

- Worawit “Q” Mekchai

- Poomipat “Fearless” Trisiripanit

- Kittikorn “MyPro” Inngoen

- Anurat “Boombell” Praianun

- Sur “Tigger” Peerapat

Dari Pemain ke Presiden: Kisah Agustian Hwang

Di antara nama-nama besar yang sering terdengar di publik — seperti R7, Mongstar, dan Adi — ada satu kisah lain yang tak kalah menginspirasi dari keluarga besar Dota 2 RRQ: kisah Agustian “PhoeniX” Hwang dan Nadya Sulastri.
Agustian pernah menjadi bagian dari perjalanan RRQ, bukan hanya sebagai pemain, tapi juga sebagai team manager, sosok di balik layar yang membantu menjaga harmoni dan arah tim.
Begitu pula dengan Nadya, yang pernah memegang peran serupa — menjadi penghubung antara pemain dan manajemen, memastikan setiap elemen tim berjalan dengan satu visi yang sama.

Beberapa tahun berlalu, dan langkah mereka membawa cerita itu ke panggung yang lebih besar. Kini, Agustian menjabat sebagai President MET Global (dulu dikenal sebagai Mineski Event Team), salah satu event organizer esports terbesar di Asia Tenggara.

Di bawah kepemimpinannya, MET menjadi tulang punggung berbagai turnamen bergengsi, termasuk MPL Indonesia sejak Season 3. Sementara itu, Nadya kini berperan sebagai Country Representative Indonesia di Mineski Global, melanjutkan kontribusinya untuk dunia esports — kali ini dalam skala yang jauh lebih luas.

Kisah mereka menunjukkan bahwa warisan RRQ tidak selalu berwujud trofi atau gelar.
Terkadang, warisan itu hadir dalam bentuk pemimpin yang lahir dari semangat kompetisi, dan membawa nilai-nilai yang sama — kerja keras, kesetiaan, dan cinta pada dunia yang membesarkan mereka. Perjalanan Agustian dan Nadya menjadi bukti bahwa keluarga RRQ bukan hanya melahirkan pemain hebat, tapi juga juga sosok-sosok penting yang kini berperan sebagai stakeholder di ekosistem esports Indonesia dan Asia Tenggara..

Bukan Akhir, Tapi Warisan

Ketika RRQ menutup divisi Dota 2, banyak yang mengira bab ini sudah selesai.
Tapi sejarah membuktikan sebaliknya — RRQ Dota 2 adalah pondasi.
Tanpa mereka, mungkin RRQ takkan tumbuh jadi organisasi esports sebesar sekarang.

Mereka adalah generasi yang mengorbankan waktu, karier, dan kenyamanan demi membuktikan bahwa Indonesia bisa bersaing. Dan mereka berhasil.